Suara Rakyat (Jelata)

RJ : 1 April, 2012 - 16:10

Pekan terakhir di bulan Maret ini sungguh penuh hiruk pikuk. Hampir di setiap kota besar di Indonesia dilanda demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan pemerintah yang hendak menaikkan harga BBM. Dan puncaknya terjadi pada tanggal 30 lalu, dimotori oleh kalangan mahasiswa, para demonstran melakukan aksi untuk dapat menggagalkan rencana pemerintah yang dinilai akan memberatkan beban hidup masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Semua cara dilakukan untuk dapat menyampaikan aspirasinya. Mulai dari orasi-orasi jalanan, aksi teatrikal, konvoi masal, hingga penyabotasean jalan raya dan perusakan fasilitas umum. Pokoknya, apapun dilakukan untuk dapat menekan pemerintah agar membatalkan rencana menaikan harga BBM.

Seperti yang sudah-sudah, kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga-harga lainnya. Dampaknya tentu saja dirasakan seluruh masyarakat dan dunia usaha. Sungguh sangat menyesakkan. Saya rasa tak seorangpun menghendaki kondisi demikian. Apalagi orang seperti Saya, seorang Rakyat Jelata dari kalangan marginal, tanpa kenaikan harga saja, beban hidup sudah terasa berat. Apa jadinya kalau harga BBM benar-benar dinaikkan. Tak perlu diceritakan.

Mestinya bisa dimaklumi kalau ada sekelompok orang tergerak nurani dan emosinya untuk malakukan aksi penentangan, seperti para mahasiswa dengan aksi demonya. Namun sayang kata ”maklum” itu tidak bisa mampir di benak saya. Kenapa tidak ? Mestinya Saya  senang dan bersyukur karena masih ada orang-orang yang masih peduli kepada penderitaan hidup Saya. Ya .. apalagi kalau bukan aksi mereka yang konyol dan tidak beradab, yang sulit diterima nalar sehat saya. Aksi demo dengan mengabaikan ketentraman dan keselamatan masyarakat, tidak bisa Saya maklumi, meskipun tujuan  mereka konon-kabarnya baik. Aksi-aksi gaduh dan anarkis mereka lebih terasa sebagai teror ketimbang pembelaan.

Pendidikan Saya memang tidak tinggi (SMA). Tapi saya masih mau dan mampu untuk menjaga kewarasan Saya. Kenaikan harga BBM memang menyengsarakan. Tapi biarlah kesengsaraan itu Saya makan sendiri, jangan oleh Anak-Keturunan Saya. Rasanya tidak butuh pendidikan/pengetahuan/wawasan tinggi untuk bisa tau, bahwa harga BBM yang berlaku sekarang memerlukan subsidi. Rasanya tidak harus menjadi ekonom dulu untuk bisa faham bahwa subsidi itu tidak bisa dibiarkan selamanya, apalagi buat negara seperti Indonesia yang kebutuhannya lebih besar dari pendapatannya. Gak perlu kuliah-kuliahan segala biar ngarti kaya gituan. Sayang, mereka yang ngaku intelek ko’ ya ga’ mudeng. Cepat atau lambat, harga BBM akan/harus naik. Kenaikan harga BBM itu bukan sekarang ini saja terjadi. Setiap rezim melakukannya. Dan setiap kali terjadi, maka akan disambut dengan aksi penolakan yang anarkis dan menjadi ajang cuci tangan bagi cecunguk-cecunguk Senayan yang munafik,  seolah-olah mereka peduli pada rakyat (tinggal menolak kenaikan harga BBM, semua orang juga bisa ..... dasar oportunis). Setiap generasi pasti pernah merasakan moment menyebalkan itu. Anehnya, tidak ada rasa jera hingga tidak terfikir untuk menuntaskannya. Apa kekonyolan ini mau kita wariskan kepada anak-keturunan kita nanti seperti rezim-rezim terdahulu yang mewariskan kekonyolan ini kepada kita. Seandainya saja para pendahulu kita mau bersikap bijak dengan membereskan masalah subsidi BBM ini, tidak akan kita temui lagi pekan-pekan penuh kekacauan seperti yang baru kita alami. Masalah itu harus dituntaskan, bukan ditunda-tunda. Menunda-nunda masalah, ibarat menyimpan bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Itulah pelajaran yang bisa kita petik dari ketamakan rezim Soeharto dan kroni-kroninya. 20 tahun yang akan datang, mungkin negara tetangga kita sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah Olympiade atau Piala Dunia Sepak Bola. Sedangkan kita sedang miris-mirisnya melihat tampang beringas demonstran dan gaya tengik Anggota Dewan yang konon-kabarnya sedang membela rakyat.

Seperti sudah menjadi tradisi, setiap demonstrasi pasti dibarengi dengan aksi anarkis yang merusak harta benda, baik milik pribadi maupun pemerintah. Apalagi kalau demo itu terjadi di kawasan Gedung DPR, bisa dipastikan bakalan banyak kerusakan yang mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Saya heran ada orang yang mau merusak properti di Kompleks DPR. Sebab kita tau, belanja kebutuhan untuk Gedung DPR dan Penghuni-penghhuninya selalu memakan anggaran yang gila-gilaan. Satu saja kaca jendela yang pecah, biaya penggantiannya bisa setara dengan biaya untuk membangun Gedung Sekolah yang representatif di daerah. Itu baru kaca jendela. Apalagi kalau mobil atau pagar besi, yang dirusak. Saya curiga, demonstran-demonstran itu memang disuruh untuk merusaknya. Kalau perlu dengan imbalan. Kalau mereka merusakknya atas inisiatif sendiri, ga’ tau dah, kata apa yang lebih parah dari goblok, tolol, bego, kekanak-kanakan, ga’ punya otak, ...... ^***%!*#@$%**^%$@$/.

Comments

die's picture

100% setuju.
Keputusan banci yang dibuat para pengambil keputusan beberapa waktu lalu seakan-akan kita bisa dihibur dengan pemberian bombon basi ditengah hari. Menunda kenaikan harga tersebut hanyalah pengalihan sementara terhadap kondisi riil saat ini.

RJ's picture

Itulah penyakit utama sebagian-besar orang di sini ... hanya mementingkan diri sendiri, Masabodo nasib anak cucu ..